Street Hunt: Sekilas Solo


Tampak depan Museum Radya Pustaka.
Museum yang akhir-akhir ini menjadi terkenal karena kasus
pencurian arca.

Baliho Peta Wisata Kota Solo.
Andaikan baliho seperti ini ditempatkan di sudut-sudut
strategis kota Solo jelas akan memudahkan pelancong.

Rumah Makan Pecel Solo memiliki sebuah meja besar
yang diatasnya tertata apik berbagai macam lauk pelengkap
nasi pecel dengan rasa (dan harga) yang fantastis.

Kalau sudah melihat plang rumah makan ini,
berarti oase untuk perut sudah dekat.
Aku berangkat seorang diri dari Stasiun Tugu, Yogyakarta menggunakan kereta api Prambanan Ekspress (Prameks) yang berangkat pukul 11.15. Akan tetapi karena faktor teknis, kereta tersebut baru diberangkatkan pada pukul 11.30. Prameks merupakan kereta bisnis, dengan harga tiket Rp.7000 dan berhenti di Stasiun Tugu, Lempuyangan, Maguwo, Klaten, Purwosari, Balapan, Jebres, serta Palur. Cukup menyenangkan naik kereta Prameks, di tengah perjalanan sempat juga kereta melewati Stasiun Brambanan, ah...jadi teringat kenangan KKN di desa Kebondalem Kidul tercinta.
Aku tiba di Stasiun Balapan pada pukul 12.30. Dengan berbekal kompas sederhana yang menjadi gantungan kunci dan tentunya modal nekat (hehehe), aku langsung bergerak ke arah selatan untuk menuju Pura Mangkunegaran. Tapi ternyata jalan ke selatan dari stasiun tidak semulus yang kubayangkan, aku harus berjalan ke arah barat, kemudian ke timur dan menuju ke selatan. Sampai pada akhirnya aku tiba...di Jl. Slamet Riyadi!
Jl. Slamet Riyadi
Jl. Slamet Riyadi adalah jalan besar dan lebar yang membentang di tengah kota Solo. Aku tidak asing dengan jalan ini, karena aku sering melalui jalan ini dan beberapa waktu lalu aku memotret Kirab Pusaka Dunia di Balaikota yang terletak di ujung jalan ini. Sepertinya Gusti Allah masih sayang kepadaku, aku “tersasar” tidak jauh dari Baliho Peta Turis Kota Solo! (Ternyata aku terlalu jauh berjalan ke arah selatan). Karena sudah mendapatkan panduan jalan yang pasti, aku bisa sedikit santai dan melewatkan waktu dengan memotret suasana di Jl. Slamet Riyadi.
Jalan ini lumayan besar untuk jalan kota dan beberapa ruas diantaranya adalah satu arah. Di sisi selatan jalan terdapat bekas rel yang dahulu kala dipergunakan oleh kendaraan trem pada jaman pemerintahan Belanda. Sisi selatan jalan terdapat trotoar yang luas sekali, mengingatkanku pada trotoar di Orchard Road, Singapura (kayaknya dulu pernah kesana). Trotoarnya bersih, dicat menarik, tetapi sayangnya tidak banyak orang yang melintas disana. Di sepanjang Jl. Slamet Riyadi juga terdapat bangunan-bangunan yang menarik minatku seperti Museum Radya Pustaka (baru tahu tempatnya disitu) dan bangunan tua semisal toko buku Gramedia. Sayang aku tidak sempat untuk berkunjung ke tempat-tempat itu karena sudah harus melanjutkan perjalanan ke Pura Mangkunegaran.
Pecel Solo
Ada sebuah rumah makan di Jl. Dr. Soepomo yang menarik perhatianku. Rumah makan tersebut bernama Pecel Solo, tepatnya berada di Jl. Dr. Soepomo no. 55, Pasar Beling, Mangkubumen, Solo. Rumah makan tersebut menyajikan menu Pecel Solo dengan rasa yang wah (dan juga harga yang wah juga). Seporsi Pecel Solo dihargai Rp.6000, teh manis panas seharga Rp. 2500, dan gorengan martabak mini seharga Rp.2500. Bukan harga mahasiswa memang, tetapi rasa pecel solonya serta suasana di rumah makan tersebut yang sangat Solo tempoe doeloe sekali pasti membuat anda ketagihan ingin kembali kesana. Ah, aku pertama kali berkunjung ke rumah makan tersebut pada tahun 2005 bersama Bu Amiek beserta kakak-kakak iparnya. Pada waktu itu Solo sedang diguyur hujan yang rintik-rintik, sehingga mood klasik rumah makan itu menjadi terasa. Untungnya saat aku berpetualang di Solo, cuaca cerah serta langit biru. Hanya pada saat aku hendak pulang saja, baru terlihat mendung perlahan menutupi celah-celah langit kota Solo. Pada pukul 16.09 aku kembali ke Yogyakarta dengan menggunakan kereta Prameks.
Belum Selesai...
Sebagai kota warisan dunia, sepertinya Solo masih menyimpan banyak keunikan budaya yang pantas untuk kuabadikan ke dalam gambar. Entah kapan lagi aku bisa blusukan ke Solo tetapi yang jelas...petualangan di Solo belum usai...
Sebagai kota warisan dunia, sepertinya Solo masih menyimpan banyak keunikan budaya yang pantas untuk kuabadikan ke dalam gambar. Entah kapan lagi aku bisa blusukan ke Solo tetapi yang jelas...petualangan di Solo belum usai...













NIMBRUNG YUK!
eh ke galabo g??banyak wisata kuliner di sana...
1. IP ku..
2. IP UGM (kemungkinan ini kamu juga ato paling banter si ipin)
3. Kemungkinan besar IP rumahmu..
hahahaha..peace wis :P
tenang, aku kan setia mengunjungi blogmu dan terus berkomen supaya kamu tetep semangat nulis2, hehehe (g ngefek ya??hahahaha)
Kayaknya Solo belum jadi UNESCO World Heritage Site deh,
Di Indonesia ada 7 dan 3 diantaranya di Jawa Tengah, yaitu
> Borobuduour Temple Compound [Borobudur, Pawon, Mendut]
> Prambanan Compound [Prambanan, Lumbung, Bubrah, Sewu]
> Sangiran Site - Early Human Site
Udah ah.........
Tempatnya di daerah Gading (kampung menangan) ... lokasinya gak jauh dari alun-alun kidul Kraton
Kasunan Surakarta. Pengen makan bakso yang mantap silahkan parkir sepedanya di Warung Bakso
Remaja di daerah pasar kembang. Mau minum es teler yang joss? gowess aja ke daerah Cemani disana
ada pusat jajanan cemani gak jauh dari Lotte Mart (ex.Makro Mart). Pengen nyari onderdil sepeda
murah dan lengkap ada di toko sepeda Tjinpoe di daerah Pasar Kembang atau toko sepeda Saerah di
daerah Pasar Legi (belakang Puri Mangkunegaran).