Kompleks Candi Arjuna

Kompleks Candi Arjuna terdiri dari lima buah candi. Empat candi menghadap ke arah barat sementara satu candi lainnya menghadap ke arah timur. Candi-candi ini merupakan candi Hindu, terlihat dari gaya bangunan candi yang tinggi dan ramping serta tidak ditemukan stupa khas candi Buddha. Sebenarnya bukti konkrit di lapangan kalau candi-candi ini merupakan candi Hindu terdapat pada salah satu candi yang memiliki relief Agastya, Durga, dan Ganesha. Seperti candi Gatotkaca, kompleks candi ini sepertinya juga tidak menganut paham satu candi induk dan tiga candi perwara.

Ki-Ka: Candi Sembadra, Candi Puntadewa, Candi Srikandi.

Arca singa penjaga tangga.
Candi kedua adalah Candi Puntadewa. Puntadewa sebenarnya adalah nama lain dari Yudhistira, kakak tertua dari Pandawa Lima. Pada candi ini terdapat tangga masuk yang di depannya dijaga oleh sepasang arca singa. Di atap candi juga terdapat relung yang mungkin merupakan tempat arca dewa.

Talang air di Candi Arjuna.
Candi terakhir adalah Candi Arjuna yang tepat dihadapannya berdiri Candi Semar. Candi Semar sendiri sebenarnya merupakan semacam bilik tempat pendeta Hindu tinggal. Mirip seperti Candi Sari namun dalam ukuran yang lebih kecil. Dibandingkan dari keempat candi lainnya, Candi Arjuna tampak lebih megah. Di candi ini terdapat tangga masuk yang di depannya dijaga oleh makara. Selain itu di sisi-sisi candi juga terdapat relung yang merupakan tempat arca Agastya, Durga dan Ganesha. Selain itu di puncak candi terlihat gaya arsitektur yang dinamakan kudu, yaitu relung kecil yang berisikan arca dewa. Arca dewa di kudu inilah yang banyak menjadi incaran tangan-tangan jahil. Gaya arsitektur kudu juga terdapat di Candi Gebang.

Kudu di Candi Arjuna (kiri) dan di Candi Gebang (kanan).
Antara Hujan dan Kabut...
Memotret di Telaga Warna, Candi Gatotkaca, dan Kompleks Candi Arjuna sebenarnya merupakan pekerjaan yang beresiko. Pasalnya pada saat itu cuaca silih berganti antara hujan dan kabut. Karena tidak setiap hari aku bisa kemari, maka terpaksa aku menyiksa Nikon D80-ku untuk mengabadikan beberapa momen, hasilnya memang tidak mengecewakan sih. Sebagai bekal untuk menghadapi kondisi cuaca seperti ini ada baiknya kamera dibungkus dengan kantong plastik. Jika ada jeda pemotretan, sebaiknya kamera dibersihkan dari air, terutama di muka lensa. Baterai juga akan cepat habis karena cuaca pegunungan yang dingin. Jangan lupa membawa payung serta jas hujan. Oh iya, harap anda buang air kecil dulu sebelum memotret karena cuaca seperti ini membuat anda akan sering buang air kecil dan lokasi pemotretan jauh dari kamar kecil.
Memotret di Telaga Warna, Candi Gatotkaca, dan Kompleks Candi Arjuna sebenarnya merupakan pekerjaan yang beresiko. Pasalnya pada saat itu cuaca silih berganti antara hujan dan kabut. Karena tidak setiap hari aku bisa kemari, maka terpaksa aku menyiksa Nikon D80-ku untuk mengabadikan beberapa momen, hasilnya memang tidak mengecewakan sih. Sebagai bekal untuk menghadapi kondisi cuaca seperti ini ada baiknya kamera dibungkus dengan kantong plastik. Jika ada jeda pemotretan, sebaiknya kamera dibersihkan dari air, terutama di muka lensa. Baterai juga akan cepat habis karena cuaca pegunungan yang dingin. Jangan lupa membawa payung serta jas hujan. Oh iya, harap anda buang air kecil dulu sebelum memotret karena cuaca seperti ini membuat anda akan sering buang air kecil dan lokasi pemotretan jauh dari kamar kecil.














NIMBRUNG YUK!