Dari sekian banyak candi yang pernah kukunjungi, beberapa candi yang letaknya di dalam sebuah desa biasanya dikelilingi oleh persawahan. Tapi sawah-sawah itu pun nggak terlalu luas, paling-paling hanya mengitari lahan-lahan sekitar candi aja. Nah, pada hari Kamis (10/04/2009), sehari setelah Pemilu Legislatif, aku berkesempatan untuk mengunjungi Situs Batujaya yang letaknya di Kec. Batujaya, Kab. Karawang, Jawa Barat. Kesan pertama ketika tiba di lokasi ini adalah...
Dimana candinya? Yang ada kok sawah semua?
Dari pengalamanku kemari dan pengalaman sesama pencari "batu",
mbak Vinna, sebenarnya lokasi situs ini "cukup dekat" kalau dijangkau dari Jakarta. Ini aku berikan rute panduannya, semoga nggak tersasar sewaktu menjajal kemari, hehehe.
-
Dari Jakarta, masuk ke Tol Cikampek dan jalan saja hingga kilometer 47. Di kilometer tersebut ada Gerbang Tol Karawang Barat. Keluar di gerbang tol tersebut.
-
Sesaat setelah keluar jalan gerbang tol, perhatikan di sisi kiri jalan. Bakal ada papan petunjuk hijau kecil yang menunjukkan arah ke Candi Jiwa yang dilengkapi dengan petunjuk kilometernya. Kalau nggak salah di papan petunjuk yang paling dekat dengan pintu keluar gerbang tol tertera angka 46 km. Candi Jiwa itu merupakan salah satu candi di situs Batujaya.
-
Oke deh! 46 kilometer lagi sampai ke tujuan. Seberapa lama anda bisa sampai ke tujuan, itu tergantung dari kemahiran anda mengemudikan kendaraan. Karena rintangannya banyak, mulai dari jalan yang rusak-bergelombang-PARAH, lebar jalan yang sempit, sampai perilaku pengendara motor yang bakal bikin anda mengumpat-umpat.
-
Intinya ikuti saja arah yang ditunjukkan oleh papan petunjuk hijau kecil, letaknya ada di sisi kiri jalan.
Candi Jiwa
Candi Jiwa.
(Klik Untuk Memperbesar)
Obyek pertama yang ada di situs ini adalah Candi Jiwa. Candi ini letaknya berada di sekeliling persawahan. Bentuk candi ini persegi dan terbuat dari batu bata merah. Ada pendapat digunakannya batu bata adalah karena sukarnya mendapatkan batu andesit di sekitar candi. Candi ini tidak memiliki pintu ataupun tangga masuk. Menurut sumber di internet, di bagian atas candi ini terdapat struktur melingkar yang mirip struktur stupa. Candi ini adalah candi Buddha walau nggak ada satupun ornamen patung Buddha di sekitar candi. Apa patung Buddha-nya juga terbuat dari batu bata juga ya? Anyway, candi ini juga masih dimanfaatkan oleh umat Buddha dalam pelaksanaan Waisak setiap tahunnya.
Situs Segaran II
Baru juga digali sekitar 1/2 meter,
sudah terlihat struktur batu bata.
Nggak puas dengan satu obyek ini, aku kemudian lihat-lihat sekeliling. Hamparan sawah dimana-mana, walau keren juga karena baru sekali ini bisa lihat sawah yang luaaas banget kayak gini. Nggak salah kalau Karawang disebut sebagai gudang berasnya Jawa Barat. Sayang langit mendung, kalau nggak udah kupotretin tu sawah plus aktivitas para petani disini. Sejurus kemudian, aku menangkap pemandangan sebuah dataran yang dikelilingi sawah-sawah. Penasaran, aku pun kesana dengan lebih dulu meniti pematang sawah yang sering membuatku terperosok ke sawah.
Gundukan tanah kecil "versi mini" Candi Abang,
di dalamnya ada apa ya?
Ternyata dataran yang kulihat tadi juga termasuk situs purbakala, namanya Situs Segaran II. Disana sedang dilakukan penelitian, lebih tepatnya ekskavasi oleh para arkeolog dari
FIB UI. Mereka sepertinya sedang serius meneliti, jadi penjelasan yang diberikan oleh mereka sedikit dan terkesan seadanya saja. Menurut bapak-bapak warga desa yang membantu ekskavasi, di situs ini banyak ditemukan struktur bangunan kalau menggali tanah sedalam 2 meter. Di lokasi ini juga ada sumur, bentuknya sih sumur biasa, yang katanya berusia sama dengan situs ini. Di situs ini juga banyak gundukan-gundukan tanah kecil seperti bukit, menurut penuturan mereka dibawah gundukan tanah itu ada struktur bangunan candi. Memang sih bentuk gundukan itu mirip dengan
Candi Abang.
Candi Blandongan
Candi Blandongan.
(Klik Untuk Memperbesar)
Setelah puas nggrecokin ekskavasi situs Segaran II, aku melihat sebuah bangunan bedeng di tengah sawah. Mencolok banget, soalnya ada seng-seng disusun membentuk pagar yang dikitari oleh sawah. Dengan rasa penasaran yang sama aku langsung ke bangunan tersebut. Kupikir itu tempat penggilingan padi, soalnya ada bapak-bapak petani sedang ngangkut gabah disana. Eh ternyata itu candi, namanya Candi Blandongan. Candi ini relatif lebih besar dan lebih utuh dibandingkan Candi Jiwa. Tangga masuknya ada 4 di setiap penjuru mata angin. Nggak ada arca atau relief di candi batu bata merah ini, tapi sumber internet menyebutkan bahwa candi ini adalah candi Buddha. Yang menarik, di Buku Panduan Pariwisata Kab. Karawang disebutkan bahwa Candi Blandongan dan Candi Jiwa menggunakan konstruksi beton. Beton klasik sih, soalnya terdiri dari batu koral, kapur kulit kerang, dan pasir atras.
Katanya Pak Budi
Pak Budi, yang banyak menjelaskan
seluk-beluk situs Batujaya.
Kalau aku perhatikan di hamparan sawah yang luaaas banget itu masih banyak dataran berbukit dan bedeng-bedeng. Tanda bahwa disana masih ada situs purbakala yang terpendam atau sedang digali. Tapi karena jaraknya jauh (apalagi mesti jalan kaki lewat pematang sawah) dan hari yang sudah sore, aku putuskan untuk mengakhiri ekspedisi hari itu. Di dekat loket retribusi, aku berkenalan dengan
Pak Budi salah satu warga desa yang turut aktif membantu proses penelitian situs Batujaya bersama para arkeolog. Walau statusnya hanya warga desa, tapi Pak Budi tahu banyak seluk-beluk situs Batujaya ini. Bersama beliau aku diperbolehkan masuk ke dalam ruang informasi, dimana disana tersimpan banyak pernak-pernik hasil ekskavasi dan laporan yang berkaitan dengan situs Batujaya. Salah satu laporan dibuat oleh para peneliti Prancis dari
CRA (pusat studi arkeologi prancis) yang bekerjasama dengan
Univ. Tarumanegara sejak 31 tahun yang lalu.
Tengkorak manusia, tapi sayang nggak ada namanya,
coba bisa ngomong. Pasti serem!
Dari Pak Budi, aku mendapat informasi mengenai situs ini. Kedua candi tersebut diperkirakan dibangun pada abad ke 7-12 Masehi. Pada situs ini juga ditemukan pecahan gerabah, keramik, perunggu yang beberapa diantaranya berasal dari abad ke-2 Masehi. Ternyata dari peta udara, terlihat aliran sungai purba yang mengalir di tengah-tengah situs ini, yang merupakan anak
sungai Citarum. Menurut beliau di desa Segaran ini juga banyak situs-situs purbakala lain, kalau ditotal ada sekitar 20-an situs dan saat ini baru 12 situs yang diteliti. Pada beberapa situs seperti Segaran IIA juga ditemukan rangka manusia utuh yang terkubur di bawah tanah! Jadi ada kemungkinan situs Batujaya ini sangat luas dan mungkin hampir serupa dengan situs
Trowulan di Jawa Timur.
Boks-boks berisi benda temuan di situs Batujaya.
Alhamdulillah, sampai sekarang belum ada warga nakal
yang nekat menjual barang temuan.
Karena letaknya yang dekat dengan Jakarta, situs ini kerap disambangi oleh arkeolog dari UI, seperti pada saat aku kesana beberapa arkeolog sedang menumpang menginap di rumah warga karena mereka sedang melakukan penelitian. Sarana dan prasarana yang ada di situs ini memang tergolong minim. Untuk perawatan situs, masyarakat sekitar mengandalkan biaya retribusi pengunjung yang ala kadarnya dan swadaya. Tapi masyarakat desa sepertinya ngeh dengan potensi yang mereka miliki. Beberapa rumah membuka akses homestay bagi mereka yang ingin berwisata arkeologi dengan menginap disini. Situs ini masih luaaas, seluaaas hamparan persawahan, karena dibawah sawah itu siapa tahu terpendam benda-benda arkeologi lain. Jadi masih terbuka luaaas peluang untuk mengeksplorasi situs ini dan menjadikannya obyek pariwisata andalan di Kab. Karawang yang selama ini hanya dikenal sebagai "kota pabrik".
NIMBRUNG YUK!
juga ke unur wadon / lanang ?
tempat reruntuhan candi... dimana dulu katanya pernah ditemukan arca....
btw, tahu candi batulawang di gunung canggal ngga ?
tx,
eh, Candi Batulawang di Gunung Canggal itu di propinsi dan kabupaten mana ya mba?
penghargaan untuk candi-candi warisan budaya bangsa dan juga orang seperti anda,, hehe
Telagajaya, sama satu lagi tanpa nama, tapi ditemukan semacam lumpang (klo gak salah
namanya Watu Konglomerat).