Gedong Abang Trowulan

Bangunan berbahan bata merah itu bukan sembarang bangunan. Bahannya memang dari batu bata merah tapi usianya jauh lebih tua dari usia kakek-nenek buyut kita sekalipun. Ya, itulah candi-candi utuh di Trowulan yang semuanya berwarna kemerahan. Sebab itu tak salah jika mereka diberi julukan Gedong Abang (Bangunan Merah .red). Sekali lagi, candi-candi itu adalah bukti nyata adanya suatu peradaban maju di masa lampau, khususnya di Trowulan.
WAJIB MBLUSUK INI!
Candi Brahu
Candi yang terletak di Desa Bejijong ini merupakan candi utuh di Trowulan yang paling besar. Lebih rincinya, candi ini memiliki tinggi 25,7 meter dan lebar 20,7 meter. Dari penelitian pada kaki candi, diketahui bahwa candi ini telah mengalami renovasi bangunan pada masanya.
Candi Brahu memiliki satu bilik utama yang terlihat menganga dari arah barat. Tidak ada tangga untuk menuju ke bilik tersebut, sehingga kami tak bisa untuk melongok ke dalam bilik. Sekilas apabila diperhatikan dari sisi barat, Candi Brahu ini memiliki bentuk seperti tungku pembakaran. Dari penelitian para ahli arkeologi pun ditemukan sisa-sisa arang di dalam bilik utama. Hasil analisa menunjukkan bahwa arang tersebut berasal dari kurun waktu tahun 1410 hingga 1646.
Candi Brahu diduga berlatar belakang agama Buddha. Dugaan ini diperkuat dengan adanya sisa-sisa struktur melingkar layaknya stupa di atap candi. Di dekat candi ini pernah ditemukan Prasasti Alasantan yang dikeluarkan oleh Raja Mpu Sindok pada tahun 939 Masehi. Prasasti tersebut menyebut suatu bangunan bernama waharu atau warahu yang diduga kuat sebagai Candi Brahu.
Candi Tikus
Candi ini dinamai candi tikus bukan karena candi ini dipergunakan untuk menyembah dewa tikus :D. Di masa penjajahan Belanda, candi ini tertimbun gundukan tanah yang menjadi sarang tikus. Candi ini diekskavasi pada tahun 1914 oleh RAA Kromojoyo Adinegoro yang awalnya bermula dari pembasmian sarang tikus.
Candi ini berbeda fungsi dari candi-candi lain di Trowulan karena fungsinya sebagai petirtaan atau pemandian. Di tengah candi terdapat miniatur yang merepresentasikan Gunung Mahameru. Di sekeliling candi terdapat saluran air (jalawadra) yang berfungsi untuk mengalirkan air. Saluran utamanya sendiri ada di sisi selatan candi.
Saat ini memang Candi Tikus sudah kering, dalam arti tidak difungsikan sebagai petirtaan atau pemandian. Namun saat musim hujan tiba, biasanya air hujan akan tertampung di dalam candi. Yah, bisalah untuk sekedar memberi bayangan seperti apa wujud bangunan ini di masa lampau.
Gapura Bajang Ratu dan Wringin Lawang
Suatu wilayah kerajaan pastilah memiliki pintu masuk. Tak terkecuali untuk Kerajaan Majapahit. Pintu masuk ke wilayah Kerajaan Majapahit masih dapat disaksikan hingga saat ini. Namun yang tersisa hanya dua buah, masing-masing bernama Bajang Ratu dan Wringin Lawang. Keduanya berbentuk gapura.
Gapura Wringin Lawang terletak di Desa Jatipasar. Dahulu kala masyarakat menyebutnya sebagai Gapura Jatipasar. Wringin Lawang sendiri berarti Pintu Beringin, maksudnya adalah dulu di dekat gapura ini tumbuh pohon beringin. Gapura Wringin Lawang tidak memiliki atap, sehingga dari bentuknya itu Gapura Wringin Lawang termasuk golongan Candi Bentar. Sebelum dipugar, separuh dari gapura ini runtuh. Namun sayangnya mayoritas batu-batunya tidak dapat dikembalikan, karena dahulu tempat ini adalah kuburan desa. Alhasil batu yang terpendam dalam tanah jadi hancur karena rusak saat proses menggali tanah untuk liang lahat.
Gapura Bajang Ratu terletak di Desa Temon. Nama Bajang Ratu sendiri berarti Raja Cilik. Menurut para ahli arkeolog, Gapura Bajang Ratu berkaitan dengan salah seorang raja Majapahit yaitu Jayanegara. Beliau dinobatkan menjadi raja ketika masih anak-anak dan dengan demikian diberi julukan Bajang Ratu. Menurut para ahli arkeolog lagi, gapura ini bukan merupakan gapura masuk wilayah kerajaan, melainkan gapura untuk memasuki suatu bangunan suci tertentu. Diduga ada bangunan lain untuk memperingati wafatnya Jayanegara. Ini dikarenakan relief-relief pada gapura Bajang Ratu bermakna “pelepasan”.

Relief juga terpahat di batu bata namun kini jadi samar-samar. (kiri)
Batu andesit di Gapura Wringin Lawang, entah apa fungsinya, mungkin tempat duduk prajurit penjaga? (kanan)
Epilog
Aku dan Andreas mengunjungi semua peninggalan arkeologi di Trowulan pada hari Minggu (25/10/2009). Berhubung hari libur, maka kami bisa menyaksikan bagaimana warga Trowulan berinteraksi dengan situs pariwisata sejarah ini. Sesuai dugaan, ada banyak warga yang berwisata disana. Dari mulai anak-anak hingga orang dewasa. Namun pengunjung yang mendominasi tetap para pasangan yang tengah dimabuk asmara.

Orang pacaran nonton orang pacaran. Beh!
Hal itu bisa dimaklumi, soalnya penataan situs pariwisata sejarah di Trowulan ini sangat asri. Hampir semua situs tak ubahnya taman kota. Hijau dengan rimbunnya pepohonan. Semarak dengan warna-warni kembang. Berhubung di Trowulan ini tak ada yang namanya Mall, amat logis kalau para pasangan ini “lari” ke candi untuk bermesraan. Tapi mungkin mereka tak berani berbuat hal mesum, sebab di Trowulan ini amat ketat “tata-kramanya”.

Ayo tebak, ini buah apa? :)
Di akhir perjalanan, bolehlah kami acungkan jempol untuk Trowulan. Desa ini mampu memuaskan keingintahuan kami mengenai sebuah peradaban masa lampau di Tanah Jawa. Apalagi dengan adanya Pusat Informasi Majapahit (PIM), disana kami bisa lebih tahu lebih rinci lagi mengenai arkeologi di Trowulan. Untuk saat ini memang pembangunan PIM sedang mengalami kendala. Namun kami tetap menunggu suatu saat nanti ada sarana informasi yang bisa memberikan pengetahuan mengenai arti pentingnya sebuah peninggalan arkeologi, sebuah peradaban di Trowulan.
































NIMBRUNG YUK!
sejarahku nol besar fuh!!
Btw, Candi Bajang Ratu juga bekas kuburan - dah pernah kesana [ ga ngebahas Museum Trowulan juga ? ]
ahaha.. ternyata dirinya juga suka motret orang pacaran.. :p
Wij, kok ada tulisan "waharu atau wharu"
Itu yang bilang ahli arkeologi. Mungkin kata dalam bahasa Jawa Kuna itu punya dua translasi yang berbeda.
fotone mantep kang
Di negara krtagama, dibilang tembok ibukota majapahit tebel2.. itu ada gak mas sisanya, di sisi kanan-kiri gapuranya. Biasanya yang namanya pintu Gerbang kan berlanjut sama tembok tuh.. Arghh.. jadi pengin kesana...
Sisa-sisa tembok panjaaang itu ndak ada sama sekali.
candi yang ditemukan itu lho..baru ...gress,takutnya ketinggalan momen yang bagus.
mas, boleh nitip mini banner80 x 20px
imbalnya dari saya, mas bisa dapat link balik url judul submit ertikel mas di blogkublogmu.com langsung mengarah ke blog mas, kali niat sy ketrima, langsung ke TKP aja ya mas, gt juga buat temen2 pengunjung setia blusuk
makasih