Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Naik Angkot ke Curug Kyai Kate

Gedong Abang Trowulan

Bangunan berbahan bata merah itu bukan sembarang bangunan. Bahannya memang dari batu bata merah tapi usianya jauh lebih tua dari usia kakek-nenek buyut kita sekalipun. Ya, itulah candi-candi utuh di Trowulan yang semuanya berwarna kemerahan. Sebab itu tak salah jika mereka diberi julukan Gedong Abang (Bangunan Merah .red). Sekali lagi, candi-candi itu adalah bukti nyata adanya suatu peradaban maju di masa lampau, khususnya di Trowulan.

 

 

Candi Brahu


Candi yang terletak di Desa Bejijong ini merupakan candi utuh di Trowulan yang paling besar. Lebih rincinya, candi ini memiliki tinggi 25,7 meter dan lebar 20,7 meter. Dari penelitian pada kaki candi, diketahui bahwa candi ini telah mengalami renovasi bangunan pada masanya.

 


Candi Brahu
(Klik Untuk Memperbesar)

Candi Brahu memiliki satu bilik utama yang terlihat menganga dari arah barat. Tidak ada tangga untuk menuju ke bilik tersebut, sehingga kami tak bisa untuk melongok ke dalam bilik. Sekilas apabila diperhatikan dari sisi barat, Candi Brahu ini memiliki bentuk seperti tungku pembakaran. Dari penelitian para ahli arkeologi pun ditemukan sisa-sisa arang di dalam bilik utama. Hasil analisa menunjukkan bahwa arang tersebut berasal dari kurun waktu tahun 1410 hingga 1646.

 

Candi Brahu diduga berlatar belakang agama Buddha. Dugaan ini diperkuat dengan adanya sisa-sisa struktur melingkar layaknya stupa di atap candi. Di dekat candi ini pernah ditemukan Prasasti Alasantan yang dikeluarkan oleh Raja Mpu Sindok pada tahun 939 Masehi. Prasasti tersebut menyebut suatu bangunan bernama waharu atau warahu yang diduga kuat sebagai Candi Brahu.

 

 

Candi Tikus


Candi Tikus
(Klik Untuk Memperbesar)



Kerak berwarna putih tanda batas tinggi genangan air.

Candi ini dinamai candi tikus bukan karena candi ini dipergunakan untuk menyembah dewa tikus :D. Di masa penjajahan Belanda, candi ini tertimbun gundukan tanah yang menjadi sarang tikus. Candi ini diekskavasi pada tahun 1914 oleh RAA Kromojoyo Adinegoro yang awalnya bermula dari pembasmian sarang tikus.

 

 

Candi ini berbeda fungsi dari candi-candi lain di Trowulan karena fungsinya sebagai petirtaan atau pemandian. Di tengah candi terdapat miniatur yang merepresentasikan Gunung Mahameru. Di sekeliling candi terdapat saluran air (jalawadra) yang berfungsi untuk mengalirkan air. Saluran utamanya sendiri ada di sisi selatan candi.

 

Saat ini memang Candi Tikus sudah kering, dalam arti tidak difungsikan sebagai petirtaan atau pemandian. Namun saat musim hujan tiba, biasanya air hujan akan tertampung di dalam candi. Yah, bisalah untuk sekedar memberi bayangan seperti apa wujud bangunan ini di masa lampau.

 

 

Gapura Bajang Ratu dan Wringin Lawang


Suatu wilayah kerajaan pastilah memiliki pintu masuk. Tak terkecuali untuk Kerajaan Majapahit. Pintu masuk ke wilayah Kerajaan Majapahit masih dapat disaksikan hingga saat ini. Namun yang tersisa hanya dua buah, masing-masing bernama Bajang Ratu dan Wringin Lawang. Keduanya berbentuk gapura.

 


Gapura Wringin Lawang
(Klik Untuk Memperbesar)

Gapura Wringin Lawang terletak di Desa Jatipasar. Dahulu kala masyarakat menyebutnya sebagai Gapura Jatipasar. Wringin Lawang sendiri berarti Pintu Beringin, maksudnya adalah dulu di dekat gapura ini tumbuh pohon beringin. Gapura Wringin Lawang tidak memiliki atap, sehingga dari bentuknya itu Gapura Wringin Lawang termasuk golongan Candi Bentar. Sebelum dipugar, separuh dari gapura ini runtuh. Namun sayangnya mayoritas batu-batunya tidak dapat dikembalikan, karena dahulu tempat ini adalah kuburan desa. Alhasil batu yang terpendam dalam tanah jadi hancur karena rusak saat proses menggali tanah untuk liang lahat.

 


Gapura Bajang Ratu
(Klik Untuk Memperbesar)


Gapura Bajang Ratu terletak di Desa Temon. Nama Bajang Ratu sendiri berarti Raja Cilik. Menurut para ahli arkeolog, Gapura Bajang Ratu berkaitan dengan salah seorang raja Majapahit yaitu Jayanegara. Beliau dinobatkan menjadi raja ketika masih anak-anak dan dengan demikian diberi julukan Bajang Ratu. Menurut para ahli arkeolog lagi, gapura ini bukan merupakan gapura masuk wilayah kerajaan, melainkan gapura untuk memasuki suatu bangunan suci tertentu. Diduga ada bangunan lain untuk memperingati wafatnya Jayanegara. Ini dikarenakan relief-relief pada gapura Bajang Ratu bermakna “pelepasan”.

 

 

 


Relief juga terpahat di batu bata namun kini jadi samar-samar. (kiri)
Batu andesit di Gapura Wringin Lawang, entah apa fungsinya, mungkin tempat duduk prajurit penjaga? (kanan)

 

 

Epilog


Aku dan Andreas mengunjungi semua peninggalan arkeologi di Trowulan pada hari Minggu (25/10/2009). Berhubung hari libur, maka kami bisa menyaksikan bagaimana warga Trowulan berinteraksi dengan situs pariwisata sejarah ini. Sesuai dugaan, ada banyak warga yang berwisata disana. Dari mulai anak-anak hingga orang dewasa. Namun pengunjung yang mendominasi tetap para pasangan yang tengah dimabuk asmara.

 


Orang pacaran nonton orang pacaran. Beh!

 

Hal itu bisa dimaklumi, soalnya penataan situs pariwisata sejarah di Trowulan ini sangat asri. Hampir semua situs tak ubahnya taman kota. Hijau dengan rimbunnya pepohonan. Semarak dengan warna-warni kembang. Berhubung di Trowulan ini tak ada yang namanya Mall, amat logis kalau para pasangan ini “lari” ke candi untuk bermesraan. Tapi mungkin mereka tak berani berbuat hal mesum, sebab di Trowulan ini amat ketat “tata-kramanya”.

 


Ayo tebak, ini buah apa? :)

Di akhir perjalanan, bolehlah kami acungkan jempol untuk Trowulan. Desa ini mampu memuaskan keingintahuan kami mengenai sebuah peradaban masa lampau di Tanah Jawa. Apalagi dengan adanya Pusat Informasi Majapahit (PIM), disana kami bisa lebih tahu lebih rinci lagi mengenai arkeologi di Trowulan. Untuk saat ini memang pembangunan PIM sedang mengalami kendala. Namun kami tetap menunggu suatu saat nanti ada sarana informasi yang bisa memberikan pengetahuan mengenai arti pentingnya sebuah peninggalan arkeologi, sebuah peradaban di Trowulan.

NIMBRUNG YUK!

  • #Selasa, 24 November 2009, 09:01 WIB
    Pacaran di candi.. Hahaha! Kayak Julia Roberts di Eat Pray Love aja..
    wah, malah saya belum lihat itu filem mbak.
  • #Selasa, 24 November 2009, 10:38 WIB
    di di mana sii??? ya ampuuunn.. sepertinya aku tdk mengenal budaya indo deh..
    sejarahku nol besar fuh!!
    Ini di Trowulan, Kab. Mojokerto, Jawa Timur. Jelas lha kamu ndak tahu Nyai, wong wilayah ini jadi kekuasaan saya kok. wekekeke
  • #Selasa, 24 November 2009, 10:48 WIB
    blog nya keren, mampir ke blog saya juga ya teman
    nuwun ya mbak
  • PEIN
    avatar 1814
    #Selasa, 24 November 2009, 12:21 WIB
    Kebanyakan situs2 kecil ga seasri itu kayak yg dibahas disini......

    Btw, Candi Bajang Ratu juga bekas kuburan - dah pernah kesana [ ga ngebahas Museum Trowulan juga ? ]
    Museum Trowulan ndak sempat dibahas, ntar malah mbahas konfliknya, ehehehe
  • HARY ANTO
    avatar 1817
    #Selasa, 24 November 2009, 14:44 WIB
    tell me why....kok bangunan candi ini bahan utama nya batu bata merah bukan batu hitam spt kebanyakan candi yg sering kita lihat...klo di lihat menyerupai bangunan keraton cirebon ato masjid di kudus/demak yg menggunakan batu bata merah ato peradaban mrk sudah jauh lebih maju dengan bisa membuat batu bata...???
    Simpel mas, karena disana ndak deket gunung, jadinya ndak ada batu andesit. Alhasil disana bikin pakai batu bata. Toh sampai saat ini terbukti bahwa tanah disana unggul sebagai penghasil batu bata. Walau kualitas batu bata jaman dulu dipercaya lebih kuat dibanding batu bata modern.
  • RANYSTARRY
    avatar 1818
    #Rabu, 25 November 2009, 10:41 WIB
    jadi sekarang tinggal mblusuk2nya aja yang disini ya..
    ahaha.. ternyata dirinya juga suka motret orang pacaran.. :p
    obyeknya bagus itu :D
  • RANYSTARRY
    avatar 1819
    #Rabu, 25 November 2009, 10:44 WIB
    imelku.. imelku.. aku lupa nulisinnya, biar ada notifikasi kalo dah dibales, hehe :p
    lha...
  • #Rabu, 25 November 2009, 23:33 WIB
    Mantap, suatu saat saya ingi blusukan juga ke Trowulan. Salam kenal.
    Salam kenal juga mas, semoga kesampaian :D
  • #Kamis, 26 November 2009, 05:00 WIB
    Emang eat pray love udah diputer?

    Wij, kok ada tulisan "waharu atau wharu"
    wah, itu saya juga belum tau eM. Ada traktiran nonton lagi po? hehehe.
    Itu yang bilang ahli arkeologi. Mungkin kata dalam bahasa Jawa Kuna itu punya dua translasi yang berbeda.
  • #Kamis, 26 November 2009, 14:27 WIB
    pengen kesana tapi kapan ya..
    fotone mantep kang
    Fotone menurutku sih biasa wae lho dibanding fotone BP3 :D
  • #Kamis, 26 November 2009, 15:55 WIB
    ngak minta no togel mas :D .. hehe canda :P
    masalahnya, saya ndak bisa main togel mas :D
  • #Minggu, 29 November 2009, 07:59 WIB
    Trowulan, satu tempat yg pengin Gw kunjungin. disana penginapannya Gmana mas? ada hotel2 murah gitu? atau ada gak rumah yg bisa disewa?

    Di negara krtagama, dibilang tembok ibukota majapahit tebel2.. itu ada gak mas sisanya, di sisi kanan-kiri gapuranya. Biasanya yang namanya pintu Gerbang kan berlanjut sama tembok tuh.. Arghh.. jadi pengin kesana...
    Kalau mau hotel lebih baik di Mojokerto saja Mas. Dari Mojokerto ke Trowulan cukup naik bis, bayar Rp 2.500 dalam waktu 15 menit nyampe kok. Cuma masalahnya untuk keliling2 disana itu yang butuh kendaraan.

    Sisa-sisa tembok panjaaang itu ndak ada sama sekali.
  • #Senin, 30 November 2009, 18:02 WIB
    kalo melihat sejarah bangsa bangsa jawa baisanya dihancurin yang ini kok nggak ya?
    Mungkin hancur tapi bisa direkonstruksi lagi mbah.
  • #Selasa, 1 Desember 2009, 20:05 WIB
    ngeliat turunan letak candi tikus jd inget ma candi kedulan.. kpn y candi kedulan bs kya candi tikus?
    nanti mbak kalau dana pemugaran udah ndak diprioritaskan ke Candi Prambanan lagi
  • AMIR
    avatar 1870
    #Senin, 7 Desember 2009, 21:33 WIB
    bos...klo mw jalan2 ke trowulan lebih baek jalan kaki...soalnya kita bisa ngeliat di setiap rumah penduduk ada batu bata yang lebar khas batu bata jaman majapahit.....apalagi klo mw ke candri brahu lewat sewah mantab tuch....kita dapet menemukan banyak keramin dan gerabah yang di duga berasal dari jaman majapahit....
    Wah jalan kaki capek no, apalagi dari Bejijong ke Kolam Segaran. Niatnya sih saya kesana lagi pakai sepeda lipat, ehehehe.
  • AMIR
    avatar 1871
    #Senin, 7 Desember 2009, 21:36 WIB
    tambah satu lage...ghehehehe....di bajang ratu dan candi tikus pasti di buat orang pacaran..terutama di bajang ratu pasti ada yang pacaran di sudut2 komplek gapura...............pernah menemukan orang ciuman di kiri palling pojok dari kompleks gapura bajang ratru.....mantabbbb...sayang ndak bawa kamera utk mengabadikannya.....heheheheh...
    Lha itu foto pasangan yang ada di paling bawah artikel ini kan diambilnya di Candi Bajang Ratu. :D
  • #Senin, 14 Desember 2009, 14:45 WIB
    Dik ada waktu untuk ngowes ke UII jl.kaliurang ?
    candi yang ditemukan itu lho..baru ...gress,takutnya ketinggalan momen yang bagus.
    Ya diusahakan ya Bu
  • #Senin, 14 Desember 2009, 21:48 WIB
    wah jadi pengen liat2 kesono, soalnya dari kecil belum pernah liat candi euy....
    lha? emang tinggalnya dimana kok ndak pernah lihat candi?
  • #Selasa, 15 Desember 2009, 13:01 WIB
    wah, jadinga blog sebage diari nih

    mas, boleh nitip mini banner80 x 20px
    imbalnya dari saya, mas bisa dapat link balik url judul submit ertikel mas di blogkublogmu.com langsung mengarah ke blog mas, kali niat sy ketrima, langsung ke TKP aja ya mas, gt juga buat temen2 pengunjung setia blusuk

    makasih
    Ya mas, terima kasih atas informasinya. :)
  • #Selasa, 15 Desember 2009, 16:10 WIB
    di indramayu, deket cirebon itu loh...
    wuih, ya kan bisa main-main ke Garut lihat Candi Cangkuang.
  • #Rabu, 16 Desember 2009, 11:05 WIB
    wah mas kalo daerah situ mah jauh, terus gak tau juga dimana. pengen sih ke yogya....
    Walah...masak Garut aja ndak pernah kesana? Kapan-kapan mesti bertualang keluar Indramayu nih :p