Candi Sewu

Kalau dipikir-pikir-pikir-pikir lagi, perjalanan yang kami lakukan di hari terakhir bulan puasa itu memang sedikit kelewat wajar. Pertama, Andreas ingin sekali pergi ke Prambanan menggunakan bus TransJogja. Alhasil, Andreas menitipkan sepeda motornya di rumahku dan kami berangkat menggunakan bus TransJogja jalur 1A yang singgah di halte Malioboro. Sesampainya di Prambanan, kami tidak langsung menuju Taman Wisata Candi Prambanan melainkan mampir ke desa Bugisan untuk mengantar Andreas melihat Candi Gana. Setelahnya baru kami melanjutkan perjalanan ke Candi Sewu dan semua itu kami lakukan dengan berjalan kaki!

Candi Perwara dalam proses ekskavasi.
Candi Sewu terletak di Taman Wisata Candi Prambanan, sehingga untuk bisa berkunjung secara formal bisa melalui pintu masuk Taman Wisata dan dipungut biaya retribusi sebesar Rp.8000,- per orang dan Rp.1000,- per kamera. Karena kami melalui jalur informal yaitu melalui kantor pemugaran Candi Sewu yang terletak nun jauh di desa Bugisa dan dengan berkedok sebagai warga desa Bugisan, maka kami berhasil memasuki Taman Wisata Candi Prambanan dengan gratis!

Candi-candi perwara yang masih runtuh.
Candi Sewu adalah candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur. Menurut prasasti batu di kompleks candi yang ditemukan pada tahun 1960, diperkirakan kompleks Candi Sewu dibangun pada abad ke-8. Prasasti tersebut menceritakan tentang penyempurnaan sebuah tempat suci bernama Manjusrigrha pada tahun 792 Masehi, yang pada saat itu merupakan era kekuasaan kerajaan Mataram Kuno dibawah titah Rakai Panangkaran dan Rakai Panaraban. Nama Manjusrigrha adalah nama asli Candi Sewu yang memiliki arti rumah Manjusri yang merupakan dewa di agama Buddha.

Arca Dwarapala.
Masyarakat sekitar menyebut candi ini sebagai Candi Sewu karena saking banyaknya candi-candi perwara di sekitar candi induk. Namun candi ini hanya memiliki 240 buah candi perwara, disamping 1 candi induk yang menghadap ke barat, 8 candi apit, dan 8 buah arca Dwarapala yang mengapit jalan masuk ke pintu candi. Di dalam beberapa candi perwara terdapat arca Buddha. Selain itu di sisi-sisi beberapa candi perwara juga terdapat relief dewa-dewi agama Buddha. Sayang kami tidak dapat memasuki bilik candi induk karena sedang mengalami perbaikan pasca gempa 27 Mei 2006. Kalau melihat dari 10 buah candi perwara sekaligus candi apit yang telah selesai dipugar, entah kapan kami bisa menyaksikan kemegahan kompeks candi ini seperti dahulu kala. Ah, mari kita tunggu 5-10 tahun ke depan, apa jadinya kompleks ini.














NIMBRUNG YUK!
(-:
Ga kayak Candi Prambanan yang siang dikit aja udah diserbu pengunjung
Wah..........
Gratis...gratis.....
Aq juga ditawarin cara kaay gitu sama Bapak - bapak POLISI yang jaga di perempatan jalan Candi Sewu.......
POLISI lho yang ngajarin......... !!